
MALANG – Menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan menjadi komitmen MA Muhammadiyah 1 Plus Malang (Mamumtaza). Sebagai salah satu langkah nyata, Mamumtaza menggelar kegiatan Inspire Talk with Expert bertema “Dari Candaan ke Pelanggaran Batas” pada Rabu (21/10/2026) pagi di Aula Mamumtaza. Kegiatan ini diikuti oleh siswi kelas X dan XI dengan menghadirkan psikolog sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, M.Psi., sebagai pemateri.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswi tentang berbagai bentuk bullying, khususnya pelecehan seksual, serta membekali mereka dengan pemahaman untuk mengenali batasan interaksi yang sehat dalam pergaulan sehari-hari. Edukasi ini menjadi penting agar candaan yang dianggap biasa oleh sebagian orang tidak berujung pada tindakan yang melukai, merendahkan, atau melanggar batas pribadi orang lain.
Dalam pemaparannya, Atika menjelaskan berbagai bentuk bullying dan pelecehan seksual, baik secara verbal, nonverbal, fisik, maupun digital. Para siswi diajak memahami bahwa tindakan yang dibungkus dengan alasan bercanda tidak serta-merta dapat dibenarkan apabila membuat orang lain merasa tidak nyaman atau melanggar batas pribadinya.
“Berhati-hatilah dalam bercanda, karena kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perasaan orang lain terhadap perkataan atau tindakan kita,” menjadi salah satu pesan penting yang ditekankan dalam kegiatan tersebut. Melalui pemahaman ini, siswi diharapkan semakin peka terhadap perasaan orang lain dan mampu membangun interaksi yang saling menghormati.
Belajar Mengenali Batas Melalui Studi Kasus
Tidak hanya menerima materi, para siswi juga terlibat aktif dalam kegiatan studi kasus secara berkelompok. Mereka diminta mengidentifikasi peristiwa yang termasuk bullying, menganalisis dampak yang mungkin dialami oleh penyintas, serta mendiskusikan langkah yang sebaiknya dilakukan oleh pihak sekolah maupun teman sebaya ketika mengetahui adanya tindakan perundungan.
Aktivitas ini mendorong siswi untuk berpikir kritis dalam membedakan candaan yang wajar dengan perilaku yang telah melewati batas. Selain itu, mereka diajak memahami bahwa menghadapi bullying bukan hanya tanggung jawab orang yang mengalaminya, melainkan juga membutuhkan kepedulian teman sebaya dan dukungan lingkungan sekolah.
Salah satu materi yang menarik perhatian adalah pengenalan langkah T.E.G.A.S., sebuah panduan bagi siswi untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
• T – Tenangkan diri sendiri, agar dapat berpikir lebih jernih dalam menghadapi situasi.
• E – Ekspresikan penolakan, dengan menyampaikan bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima.
• G – Geser atau menjauh, menuju tempat atau situasi yang lebih aman.
• A – Ada yang diberi tahu, yaitu orang dewasa tepercaya yang dapat memberikan bantuan.
• S – Simpan bukti, terutama jika kejadian berlangsung melalui media digital.
Melalui panduan ini, siswi diharapkan memiliki pemahaman awal tentang langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dan mencari pertolongan ketika menghadapi perilaku yang melanggar batas. Mereka juga diingatkan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah penting untuk menjaga keselamatan diri.
Memperkuat Komitmen sebagai Sekolah Ramah Anak
Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, Shoufie Nur Aini, M.Pd., dan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Fenti Aulia Nur I., M.Pd., turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran jajaran madrasah menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya pencegahan bullying dan penguatan budaya saling menghormati di lingkungan pendidikan.

Kegiatan Inspire Talk with Expert ini sekaligus mempertegas komitmen Mamumtaza dalam mempertahankan identitasnya sebagai Sekolah Ramah Anak yang telah dimiliki sejak tahun 2022. Madrasah berupaya tidak hanya menyediakan ruang belajar yang mendukung perkembangan akademik, tetapi juga memastikan peserta didik merasa aman, dihargai, dan terlindungi selama menjalani proses pendidikan.
Sebagai bagian dari upaya preventif, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pengisian kuesioner bagi siswi. Hasilnya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan madrasah dalam menentukan tindak lanjut, termasuk layanan konseling bagi peserta didik yang membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Pelaksanaan kegiatan bagi siswi ini merupakan bagian dari rangkaian edukasi pencegahan bullying di Mamumtaza. Kegiatan serupa yang ditujukan bagi siswa putra direncanakan berlangsung pada November mendatang, sehingga edukasi mengenai batasan interaksi dan pencegahan kekerasan dapat menjangkau peserta didik secara lebih luas.
Melalui kegiatan ini, Mamumtaza berharap seluruh peserta didik semakin memahami bahwa menciptakan lingkungan yang aman dimulai dari kesadaran setiap individu untuk menghormati batasan orang lain, berani menolak perilaku yang tidak pantas, dan peduli terhadap teman yang membutuhkan pertolongan. Sebab, candaan seharusnya menghadirkan kebahagiaan, bukan menjadi alasan untuk menyakiti. (SNA)



MA Muhammadiyah 1 Kota Malang adalah lembaga pendidikan Islam yang berdedikasi mencetak generasi unggul, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan global.