Berita › Berita Mamumtaza

Mamumtaza Malang Borong Enam Medali di ME Awards 2026, Bukti Budaya Prestasi yang Tumbuh dari Pembinaan.

humas mamumtaza
humas mamumtaza

Kota Malang (Humas) — Di balik setiap medali, ada proses panjang yang dibangun melalui keberanian mencoba, ketekunan berlatih, dan kemauan untuk terus belajar. Semangat inilah yang kembali ditunjukkan MA Muhammadiyah 1 Kota Malang (Mamumtaza Malang) dalam ajang Muhammadiyah Education Awards (ME Awards) 2026.

Dalam kompetisi pendidikan tingkat nasional yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tersebut, Mamumtaza Malang berhasil meraih enam medali dari berbagai kategori. Prestasi itu meliputi Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Olimpiade Kimia, Guru Berprestasi, dan Inovasi Pembelajaran Digital.

ME Awards 2026 digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (8/8/2026) dan diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Berbagai cabang lomba dipertandingkan, mulai dari Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Olimpiade Mata Pelajaran, Al Islam dan Kemuhammadiyahan, hingga kategori Guru Berprestasi dan inovasi pembelajaran.

Persaingan yang ketat membuat ajang ini tidak sekadar menjadi tempat untuk memperebutkan medali. ME Awards juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk menguji kemampuan, menambah pengalaman, dan melihat sejauh mana proses pembinaan pendidikan telah berjalan.

Enam Medali untuk Mamumtaza

Prestasi Mamumtaza Malang datang dari siswa maupun guru. Pada kategori peserta didik, Nadjwa Rayya, siswa kelas XII IPS, dan Azkia Anatsya, siswa kelas XII IPA, masing-masing meraih Bronze Medalist pada Lomba Esai Bahasa Arab.

Sementara itu, Zahra Zhavira, siswa kelas XI IPA, berhasil meraih Silver Medalist pada Lomba Esai Bahasa Inggris.

Prestasi juga diraih dalam bidang sains. Radzi Asyakaril, siswa kelas XII IPA, berhasil memperoleh Bronze Medalist pada Olimpiade Kimia.

Tidak hanya siswa, guru Mamumtaza Malang juga turut menunjukkan prestasinya. Ustdzh Nadia Af Idati meraih Bronze Medalist pada kategori Guru Berprestasi, sedangkan Ustdzh Hanif Nur memperoleh Silver Medalist pada Lomba Inovasi Pembelajaran Digital.

Enam medali tersebut menunjukkan bahwa budaya prestasi di Mamumtaza Malang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik siswa. Guru juga terus didorong untuk meningkatkan kompetensi, kreativitas, dan kemampuan dalam mengembangkan pembelajaran.

Hasil dari Proses Pembinaan

Capaian tersebut tentu tidak diraih secara instan. Para peserta telah mengikuti pembinaan dan bimbingan secara intensif bersama guru internal maupun pembimbing dari luar madrasah.

Pembinaan dilakukan untuk memperkuat kemampuan akademik, keterampilan, kreativitas, serta kesiapan mental peserta sebelum mengikuti kompetisi tingkat nasional.

Kepala MA Muhammadiyah 1 Kota Malang, Akhmad Ari Wibowo, M.Pd., menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada seluruh peserta, guru pendamping, serta pembimbing yang telah bekerja keras.

“Kami sangat bangga dan bersyukur atas capaian anak-anak dan guru kami. Terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah berjuang, juga kepada para guru pendamping dan pembimbing yang telah memberikan pembinaan secara intensif. Prestasi ini adalah buah dari proses yang panjang.”

Menurut Ari, medali bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Hal yang lebih penting adalah proses yang membentuk peserta didik dan guru agar memiliki semangat untuk terus berkembang.

Ia berharap kegiatan seperti ME Awards dapat terus diikuti oleh siswa maupun guru karena pengalaman dalam kompetisi dapat membantu membangun budaya berprestasi.

“Even seperti ini harus sering diikuti oleh murid maupun guru. Dari sana akan tumbuh budaya juara, yaitu budaya dari orang-orang yang fokus untuk terus meningkatkan kualitas dirinya dan berusaha menjadi yang terbaik. Juara bukan hanya tentang mendapatkan medali, tetapi tentang kemauan untuk terus bertumbuh.”

Kompetisi sebagai Ruang Pembentukan Karakter

Kompetisi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai persoalan menang dan kalah. Melalui kompetisi, siswa belajar menghadapi tekanan, berani tampil, menghargai proses, menerima hasil, dan memperbaiki kekurangan.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Mamumtaza Malang untuk menjadi madrasah unggul yang berkarakter Islami dan berwawasan internasional. Penguatan kemampuan bahasa, sains, Al Islam dan Kemuhammadiyahan, serta inovasi pembelajaran menjadi bagian dari upaya madrasah dalam menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dan berprestasi di tingkat yang lebih luas.

Nilai tersebut juga sejalan dengan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Pembinaan prestasi tidak hanya diarahkan untuk mengejar nilai dan penghargaan, tetapi juga untuk menumbuhkan kecintaan terhadap proses belajar, mengenali potensi diri, menghargai kerja keras, serta berani memberikan hasil terbaik.

Dalam pendidikan, keberhasilan siswa juga perlu dilihat secara lebih luas. Kemampuan akademik perlu berjalan bersama dengan pembentukan karakter, kreativitas, kesehatan mental, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi. Lingkungan belajar yang sehat dan suportif menjadi salah satu kunci agar siswa dapat berkembang secara optimal.

Semangat tersebut sekaligus memperkuat Panca Prestasi Madrasah, yang menempatkan prestasi sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Kompetisi menjadi ruang bagi siswa dan guru untuk mengembangkan kemampuan, menguji kualitas diri, sekaligus mendapatkan pengalaman baru.

Apresiasi dari Kemenag Kota Malang

Apresiasi juga disampaikan Abdul Mughni, S.Ag., M.Pd., Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Malang. Ia mengapresiasi capaian Mamumtaza Malang sekaligus seluruh madrasah yang ikut berpartisipasi dalam ME Awards 2026.

Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa madrasah memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan bersaing di tingkat nasional. Keberhasilan tersebut juga menjadi bukti pentingnya pembinaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Prestasi, menurutnya, tidak hanya diukur dari siapa yang membawa pulang medali. Lebih dari itu, prestasi menjadi salah satu indikator bahwa proses pendidikan, pendampingan, serta pemberian ruang bagi siswa dan guru untuk berkembang telah berjalan dengan baik.

Dalam semangat reformasi birokrasi dan Kementerian Agama Berdampak, dukungan terhadap madrasah diharapkan dapat bermuara pada layanan pendidikan yang semakin mudah diakses, nyaman, responsif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Madrasah tidak hanya membutuhkan tata kelola yang baik, tetapi juga ekosistem pembinaan yang mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa dan pendidik untuk mengembangkan potensi mereka.

Menjadi Energi untuk Terus Berkembang

Capaian Mamumtaza Malang menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan dibangun melalui banyak unsur. Pembinaan yang konsisten, guru yang terus belajar, siswa yang diberi ruang untuk berkembang, lingkungan belajar yang sehat, serta tata kelola yang mendukung inovasi semuanya memiliki peran penting.

Bagi Mamumtaza Malang, enam medali dari ME Awards 2026 bukanlah akhir dari perjalanan. Prestasi tersebut justru menjadi motivasi untuk memperluas pembinaan dan membuka lebih banyak kesempatan bagi siswa maupun guru untuk berprestasi.

“Kami berharap prestasi ini terus meningkat. Setiap peserta yang sudah mendapatkan pengalaman di ME Awards hari ini harus menjadikannya sebagai modal untuk menghadapi even-even berikutnya. Semoga semakin banyak murid dan guru Mamumtaza yang berani tampil, berprestasi, dan membawa nama baik madrasah,” pungkas Ari.

Pada akhirnya, medali mungkin hanya berupa benda yang dibawa pulang. Namun, keberanian untuk bermimpi, kemauan untuk berlatih, serta keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang merupakan kemenangan yang jauh lebih berharga. Dari madrasah, prestasi tidak hanya dilahirkan, tetapi juga dibentuk menjadi karakter, pengalaman, dan kebermanfaatan untuk masa depan.

MA Muhammadiyah 1 Kota Malang adalah lembaga pendidikan Islam yang berdedikasi mencetak generasi unggul, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan global.